{"id":4837,"date":"2015-06-23T09:00:04","date_gmt":"2015-06-23T02:00:04","guid":{"rendered":"http:\/\/www.duaransel.com\/?p=4837"},"modified":"2015-07-07T05:46:57","modified_gmt":"2015-07-06T22:46:57","slug":"tips-bawa-uang-saat-traveling","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.duaransel.com\/tips-2\/travel-tips\/tips-bawa-uang-saat-traveling\/","title":{"rendered":"Tips Bawa Uang Saat Traveling"},"content":{"rendered":"

\"Mata<\/a><\/p>\n

Hi travelers! Kali ini kami ingin sharing mengenai strategi kami membawa uang selama bepergian. Tentunya setiap pelancong memiliki triknya sendiri-sendiri. Berikut ini adalah cara kami, yang kami maksimalkan sehubungan dengan sifat traveling kami yang berjangka panjang dan kerap berganti negara. Jangka panjang artinya kami tidak mungkin untuk membawa cash cukup untuk seluruh perjalanan sekaligus, dan kerap berganti negara artinya kami harus mempertimbangkan cara mendapatkan uang dalam mata uang yang berbeda-beda. Selamat membaca \ud83d\ude42<\/p>\n

Cash minimalis<\/span><\/h4>\n

Kami tidak suka ribet dengan dompet tebal berisi uang tunai. Ribet, resiko uang bertumpah ruah, juga mengundang perhatian para pencuri. Sebisa mungkin, kami membatasi jumlah uang tunai kami, dan mengandalkan kartu-kartu ajaib kami. Kartu ATM dan kartu kredit. Lebih praktis dan aman. Karena jika hilang atau tercuri, dapat diblokir dengan mudah. Sedangkan jika segepok uang tunai hilang, ya sudah, hilang.<\/p>\n

\"Shopping<\/a><\/p>\n

Tips aman membawa cash, kartu ATM, dan kartu kredit<\/b><\/span><\/h4>\n

Letakkan uang tunai terpencar di beberapa lokasi, sehingga jika 1 hilang atau kecurian, yang lain masih ada sebagai back up. Misalnya sebagian di dompet, sebagian di ransel\/koper utama yang ditinggal terkunci di penginapan, sebagian di tas harian. Kalau perlu di lokasi tersembunyi untuk mempersulit pencurian. Walau masih nyesek kehilangan uang, setidaknya tidak seluruhnya lenyap. Begitu pula untuk kartu ATM dan kartu kredit, letakkan terpencar-pencar.<\/p>\n

Tips seputar kartu ATM<\/span><\/h4>\n

Perhatikan biaya tarik tunai per transaksi, apalagi jika berada di luar negeri. Kemungkinan ada biaya dari bank kita sendiri, dan mungkin ditambah dengan biaya dari bank ATM yang kita pakai. Besarnya berbeda-beda, yang kami alami biasanya berkisar antara 2-3 USD masing-masingnya. Sehingga sekali transaksi bisa terkena 6 USD. Biaya ini adalah biaya sekali tarik, tidak tergantung jumlah uang yang ditarik. Karenanya agar hemat, bisa ambil dalam jumlah besar sekaligus daripada bolak-balik ambil jumlah kecil dan tiap-tiapnya terkena biaya transaksi. Tentunya jangan lupa untuk menyimpan uang dengan hati-hati dalam penarikan jumlah besar.<\/p>\n

Cara menghindari biaya ini, carilah ATM dari bank yang sudah bekerja sama dengan bank anda, biasanya tak lagi dikenakan biaya transaksi. Bisa ditanyakan langsung ke bank anda masing-masing.<\/p>\n

Jika kami akan segera meninggalkan negara ybs, maka kami akan mengambil uang seperlunya saja, agar habis tepat pada saat meninggalkan negara tersebut dan tak perlu repot menukarkan sisanya dengan mata uang negara berikutnya.<\/p>\n

\"automated<\/a><\/p>\n

Tips seputar kartu kredit<\/span><\/h4>\n

Kami agak heran mendengar pendapat orang-orang yang tidak suka kartu kredit dengan alasan harus membayar bunga: Ya tinggal bayar tagihan sebelum terkena bunga!<\/p>\n

Kami tidak pernah harus membayar bunga kartu kredit, karena selalu membayar sebelum batas tanggalnya. Bagi kami, kartu kredit adalah kartu praktis pengganti uang tunai, bukan sebagai sarana pinjam uang selagi bank juga lagi kosong. Kalau di bank tidak punya uangnya, ya jangan beli. Mudah kan \ud83d\ude42<\/p>\n

Emergency cash<\/span><\/h4>\n

Kami selalu bawa emergency cash alias uang tunai darurat dalam jumlah kecil untuk kejadian tak terduga, misalnya kehilangan dompet di tengah jalan. Jumlahnya kecil, hanya beberapa ratus ribu rupiah, sekadar untuk bisa sampai ke fasilitas pertolongan seperti kantor polisi, kedutaan, atau rumah sakit, di mana kami dapat meminta pertolongan lebih lanjut. Emergency cash ini kami letakkan di tempat tersembunyi yang lekat dengan pakaian, untuk meminimalkan resiko hilang. Mata uangnya sesuai dengan negara yang sedang dikunjungi atau mata uang umum yang mudah ditukarkan di negara tersebut. Misalnya rupiah saat di Indonesia, USD worldwide, atau AUD saat berada di Australia dan New Zealand, atau Euro di Eropa.<\/p>\n

\"Money<\/a><\/p>\n

Ke luar negeri, bawa rupiah, USD, atau mata uang negara tujuan?<\/span><\/h4>\n

Banyak teman bertanya, kalau ke luar negeri, apakah sebaiknya bawa rupiah, bawa USD, atau bawa mata uang negara yang bersangkutan?<\/p>\n

Kalau kami sih, tidak ketiganya.<\/p>\n

Tidak bawa uang? Kami lebih suka cashless saat lintas perbatasan negara. Kecuali sedikit emergency cash, biaya perjalanan, dan imigrasi. Selebihnya, kami cenderung untuk cashless. Alih-alih membawa uang tunai, kami mengandalkan kartu ATM untuk tarik tunai setiba kami di negara tujuan. Di terminal, di bandara, atau di perbatasan. Dengan demikian kami tidak perlu repot mencari money changer baik di negara keberangkatan maupun di negara tujuan. Lebih praktis, karena biasanya ATM lebih mudah dijumpai daripada money changer. Dan tidak semua money changer memiliki exchange rate yang bagus.<\/p>\n

Tentunya ada beberapa perkecualian. Misalnya jika kami tahu bahwa ATM tidak mudah ditemui di lokasi yang dituju. Dalam kasus ini, kami siapkan sedikit uang tunai dalam mata uang umum (USD misalnya) atau mata uang negara tetangga (biasanya mata uang negara tetangga laku ditukarkan di negara yang bersebelahan) untuk ditukarkan di money changer di negara tujuan. Atau jika diketahui bahwa ATM dan money changer sama-sama tidak praktisnya, barulah kami tukar uang sebelum berangkat ke negara tersebut.<\/p>\n

Kasus lain pada saat ada sisa uang dari negara sebelumnya, dan kami tidak bermaksud kembali ke negara tersebut. Uang tersebut kami tukarkan ke mata uang negara berikutnya.<\/p>\n

\"Indian<\/a><\/p>\n

Tips menukarkan uang di money changer<\/span><\/h4>\n

Ada 3 skenario yang umum dilakukan oleh para pejalan Indonesia yang ke luar negeri:<\/p>\n

    \n
  1. Menukarkan rupiah ke mata uang negara tujuan di indonesia sebelum berangkat.<\/li>\n
  2. Menukarkan rupiah ke mata uang negara tujuan di negara tujuan, setelah tiba.<\/li>\n
  3. Menukarkan rupiah ke USD di Indonesia di Indonesia sebelum berangkat, kemudian menukarkan USD ke mata uang negara tujuan, setelah tiba di sana.<\/li>\n<\/ol>\n

    Yang mana yang paling menguntungkan?<\/p>\n

    Tergantung nilai tukar di money changer di mana kita tukar uang. Jika dari rupiah ke mata uang negara ybs nilai tukarnya baik, bisa langsung saja. Praktis. Namun untuk mata uang negara yang kurang umum, mungkin tidak mudah ditukarkan di Indonesia, atau rate-nya jelek. Demikian pula di negara tujuan, belum tentu semua money changer menerima rupiah, atau mungkin rate-nya jelek.<\/p>\n

    Karena itu banyak yang lebih suka menukarkan rupiah ke USD di Indonesia, kemudian menukarkan USD-nya ke mata uang lokal di negara tujuan. Kenapa USD? Karena USD adalah salah satu mata uang yang paling universal dan mudah diterima, dan rate-nya relatif lebih bagus daripada mata uang lainnya karena lebih kompetitif. Walau transaksinya dobel (harus ke money changer 2 kali dan terkena exchange rate 2 kali pula), bisa-bisa ini lebih praktis dan lebih murah jatuhnya, karena banyak money changer yang melayani penukaran mata uang lokal – USD dan dengan nilai tukar yang bagus. Kita dapat mengandalkan money changer – money changer di lokasi pariwisata atau area penginapan turis, tidak perlu ke money changer pusat yang biasanya meiliki pilihan lebih lengkap, namun mungkin letaknya tidak praktis.<\/p>\n

    Ini alasannya mengapa mereka yang ke luar negeri suka membawa USD walau tidak pergi ke US atau negara-negara yang menggunakannya. Alternatif ini juga bagus untuk mereka-mereka yang memang memiliki tabungan dalam currency USD.<\/p>\n

    Currency exchange rate app<\/span><\/strong><\/h4>\n

    Instal app untuk currency exchange rate (nilai tukar mata uang) misalnya XE Currency, untuk mengetahui nilai tukar mata uang terkini. Bandingkan nilai tukar di money changer dengan ini, tidak semua money changer memiliki nilai tukar yang bagus.<\/p>\n

    \"XE<\/a><\/p>\n

    Indahnya cashless transaction<\/span><\/h4>\n

    Jadi begitulah, kami lebih suka cashless transaction. Sebisa mungkin cashless. Tidak perlu membawa uang tunai tebal-tebal di dompet itu menyenangkan dan lebih aman. Kartu ATM dan kartu kredit hilang, bisa langsung diblokir. Sedangkan uang tunai hilang, ya hilang. Tentunya sedikit uang tunai perlu dibawa karena asyiknya traveling adalah pada saat blusukan di pinggir jalan, yang rata-rata tidak menerima kartu kredit. Namun untuk itu kami mengandalkan ambil uang dari ATM alih-alih bawa segepok uang dalam jumlah besar untuk bekal sepanjang perjalanan.<\/p>\n

    Rekening Ponsel<\/span><\/h4>\n

    Ada alternatif baru nan unik dari CIMB Niaga yang kami ingin coba. CIMB Niaga yang memiliki banyak produk less cash transaction, tidak hanya mempermudah nasabahnya menikmati kepraktisan kartu ATM, kartu kredit, dan mobile banking saja, kini mereka juga punya sistem super praktis rekening ponsel, kabarnya pertama di Indonesia.<\/p>\n

    \"Sony<\/a><\/p>\n

    Rekening Ponsel CIMB Niaga memperlakukan nomor ponsel kita seperti rekening tabungan. Sangat praktis dan mobile. Dengan Rekening Ponsel, kita bisa melakukan banyak hal seperti setor dan tarik tunai di ATM CIMB Niaga (tanpa kartu ATM), beli pulsa prabayar, transfer online baik ke rekening bank maupun ke no ponsel lain, bayar tagihan, cek saldo dan riwayat transaksi, hingga ke belanja di toko-toko yang sudah bekerja sama dengan CIMB Niaga. Praktis, tidak perlu bawa-bawa kartu ATM dan kartu debit malah. Semuanya dapat dikendalikan dari ponsel yang memang sudah menjadi gadget sehari-hari kita.<\/p>\n

    Untuk membuka rekening ponsel pun, kita tidak perlu menjadi nasabah bank CIMB Niaga atau bank manapun. Cukup mendaftarkan no ponsel kita ke cabang CIMB Niaga. Next time kembali ke Indonesia, ingin coba buka rekening ponsel deh, penasaran \ud83d\ude42<\/p>\n

    Traveling jaman dulu vs sekarang<\/span><\/h4>\n

    \"Cashless<\/a><\/p>\n

    Yah, itu bedanya traveling jaman dulu dan jaman sekarang. Jaman dulu, travelers kudu bawa persediaan uang selama di perjalanan. Resikonya tinggi sekali bawa-bawa uang tunai jumlah besar. Terkadang bawa traveler\u2019s cheque juga. Atau kadang di tengah jalan minta ditransfer orang rumah. Jaman sekarang? Cashless is better. Lebih praktis, lebih aman. Mengandalkan kartu ATM, kartu debit, dan kartu kredit. Bahkan tanpa kartu sekalipun, kalau punya rekening ponsel. Hari gini, gitu.<\/p>\n

    Omong-omong tentang cashless transaction dan hari gini gitu, CIMB Niaga sedang bagi-bagi hadiah produk-produk cashless transaction masing-masing senilai jutaan rupiah via challenge #hariginigitu. Buat yang tertarik, yuk cek di hariginigitu.com<\/a>!<\/p>\n

    \"HariGiniGitu<\/a><\/p>\n

    Bagaimana dengan kamu? Apakah ada tips dan trik khusus untuk membawa uang selama traveling? Yuk share di kolom komen \ud83d\ude00<\/span><\/h4>\n

    Tips Cuci Baju<\/span><\/a>Tips Packing Baju<\/span><\/a>Tips Dana Travel<\/span><\/a>Tips Pilih Backpack<\/span><\/a>Tips Website Andalan Backpackers<\/span><\/a>Tips Bahasa<\/span><\/a>Tips Colokan Listrik<\/span><\/a>Tips Hostel<\/span><\/a>Tips Travel Apps<\/span><\/a>Tips 10 Travel Essentials<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"

    Hi travelers! Kali ini kami ingin sharing mengenai strategi kami membawa uang selama bepergian. Tentunya setiap pelancong memiliki triknya sendiri-sendiri. Berikut ini adalah cara kami, yang kami maksimalkan sehubungan dengan sifat traveling kami yang berjangka panjang dan kerap berganti negara. Jangka panjang artinya kami tidak mungkin untuk membawa cash cukup untuk seluruh perjalanan sekaligus, dan […]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4845,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[3],"tags":[7,38],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4837"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4837"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4837\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4863,"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4837\/revisions\/4863"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4845"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4837"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4837"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4837"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}