{"id":1733,"date":"2012-05-19T20:48:57","date_gmt":"2012-05-19T13:48:57","guid":{"rendered":"http:\/\/www.duaransel.com\/?p=1733"},"modified":"2012-11-01T00:03:09","modified_gmt":"2012-10-31T17:03:09","slug":"halong-bay-photostory-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.duaransel.com\/asia\/vietnam\/halong-bay-photostory-1\/","title":{"rendered":"Halong Bay Photostory [1\/3]"},"content":{"rendered":"
\"Ryan\"<\/a>

Pemandangan indah di Halong Bay buat gue :p (klik untuk download widescreen wallpaper size)<\/p><\/div>\n

Pukul 8 pagi, kami sudah rapi jali berdiri di depan kantor pos Pulau Catba, pulau terbesarnya Halong Bay, Vietnam. Hari ini kami akan mengikuti tur kapal keliling teluk Halong yang ternama ini. Malam sebelumnya, kami sudah sempat menawar harga tur. Tujuh belas dolar, atau sekitar 160 ribu rupiah.<\/p>\n

\u201cRyan! Maaf, turnya terlambat setengah jam.\u201d Kata sang agen sambil lari tegopoh-gopoh mendatangi kantor.<\/p>\n

\u201cOke lah, kami sarapan dulu saja kalau begitu.\u201d Sahut Ryan.<\/p>\n

Memang kami bandel, suka keluyuran tanpa makan pagi. Lebih suka tidur sampai detik-detik terakhir sebelum harus bersiap, sarapan hampir selalu terkorbankan. Kecuali kalau breakfast included :p<\/p>\n

\"Vietnam<\/a>

Banana pancake and coffee<\/p><\/div>\n

Berhubung kami sedang berada di \u201cBanana Pancake Trail\u201d, gue pesen banana pancake sungguhan. Sama kopi, yang ternyata saringannya ditempatkan langsung di atas cangkir. Lucu. Sayang ga begitu enak.<\/p>\n

Setelah breakfast kilat, setengah jam, ternyata mobil penjemputnya belum datang-datang juga. Jam 9 pagi baru muncul. Terlambat 1 jam.<\/p>\n

\"Dermaga<\/a>

Dermaga<\/p><\/div>\n

Tiba di dermaga yang super reyot. Lebarnya ga sampai setengah meter, terbuat dari papan-papan kayu. Banyak yang pakunya udah copot (atau jangan-jangan memang ga dipaku?) – jelasnya, papan-papan ini uglik-uglik dan goyang-goyang sewaktu dinaiki. Sedangkan tidak ada pegangan tangan macam pagar apapun untuk menyeimbangkan diri.<\/p>\n

\"Di<\/a>

Di atas kapal kayu. Beberapatertinggal di dermaga<\/p><\/div>\n

Yang kasihan, 4 orang yang harus menunggu di atas papan-papan lepas ini, karena untuk mencapai kapal turnya, kami harus menaiki perahu dayung super kecil yang cuma berkapasitas 4-6 orang.<\/p>\n

\"Boatman\"<\/a>

Perahu dayung<\/p><\/div>\n

Keluar dari perairan Catba, kami melewati sebuah floating village. Kayaknya asyik banget tinggal di rumah-rumah apung di laut begitu ya, apalagi berlatar belakang gunung tebing terjal ala Halong yang cantiknya luar biasa!<\/p>\n

\"Floating<\/a>

Floating village (klik untuk download widescreen wallpaper size)<\/p><\/div>\n

Ada yang rumahnya berbentuk seperti rumah sungguhan, berukuran kecil, mengapung di tengah-tengah tambak apung, lengkap dengan anjing berlarian di pelatarannya, ada yang berupa rumah kapal beneran! Juga tak ketinggalan anjingnya! Rumah kapal ini juga ada yg berukuran sedang, ada yang kecil seperti sampan. Mungkin pilih rumah model apa, di sini tergantung profesi ya? Sebaiknya statis atau dinamis?<\/p>\n

\"Floating<\/a>

Floating village (klik untuk download widescreen wallpaper size)<\/p><\/div>\n

Baru juga setengah jam mengendarai kapal pesiar mini yang agak cantik ini, tiba-tiba mesinnya mogok. Mogok gok gok. Ga bisa gerak. Sebuah perahu dayung mendahului kami. Floating market. Yang seperti ini banyak terdapat di Halong Bay. Sesuai dengan namanya, pasar apung, mereka menjajakan barang dagangannya dari atas perahu kecil ini.<\/p>\n

\"Floating<\/a>

Floating Market<\/p><\/div>\n

Nyaris setengah jam lamanya, kami terapung-apung di depan sebuah tebing cantik. Panasnya luar biasa, tapi indahnya luar biasa pula.<\/p>\n

\"Dina\"<\/a>

Dina<\/p><\/div>\n

Sambil menggosokkan sunscreen, kami ngobrol-ngobrol dengan orang-orang lain di tur kami. Beberapa orang di grup ini sedang bete banget. Pasalnya, ini hari kedua mereka ikut tur kapal Halong. Hari sebelumnya, tur-tur dari Catba ditiadakan akibat ombak yang terlalu ganas untuk kapal jenis imut mini begini. Tur mereka kemarin batal, sedangkan besok pagi mereka sudah harus kembali ke Hanoi, untuk mengejar flight yang telah mereka booking. Now or never.<\/p>\n

\"Sunscreen<\/a>

Pesta sunscreen<\/p><\/div>\n

Setelah menunggu lama, sebuah kapal yang lebih kecil datang menyeret kami balik ke perairan yang lebih tenang.<\/p>\n

\"Kapal<\/a>

Kapal mogok ditarik<\/p><\/div>\n

Tunggu-tunggu lagi, dan akhirnya transfer ke kapal yang lebih kecil. Agak sebal juga melihat kapal pengganti ini.<\/p>\n

\"Pindah<\/a>

Pindah ke kapal kecil jelek<\/p><\/div>\n

Di lantai atas, alias sekedar atap datar, diletakkan kursi-kursi yang tak beraturan. Atap ini dipagari oleh pagar kayu yang kelewat rendah, nggak sampai setengah meter, yang sebetulnya sudah patah di satu sisi, hanya tertambat oleh seutas kabel untuk memberi ilusi kalau pagarnya tegak. Lantai bawahnya hanya ada 1 ruangan saja, bangku-bangku untuk makan. Sangat serampangan dibandingkan dengan kapal kami tadinya yang memiliki dek atas indoor dan outdoor, ruang makan di bawah, dan kamar tidur. Padahal bayarnya sama kan ya? Oh well, daripada ga jadi berangkat. Tapi belum-belum, kami sudah membuang 2 jam di pagi hari! Otomatis, kami nggak bisa ke semua lokasi yang direncanakan semula. Catat dalam kepala, harus minta ganti rugi entar!<\/p>\n

\"Kapal<\/a>

Kapal kecil crappy<\/p><\/div>\n

Pemandangan di Halong Bay begitu indah dan menakjubkan. Tebing-tebing tegak mencuat dari air laut, kadang-kadang begitu rampingnya hingga aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, bagaimana kalau ngga seimbang lagi, terus jatuh? Atau kalau ada gempa bumi?<\/p>\n

\"Halong<\/a>

Halong Bay (klik untuk download widescreen wallpaper size)<\/p><\/div>\n

Di grup kami ada 7 orang berkulit putih, 4 orang asia, dan 2 boatman merangkap tukang masak. Dari 4 orang Asia ini, 2 adalah turis dari Vietnam sendiri, satu saya, dan satu lagi pemuda kelahiran Vietnam yang besar di Prancis. Dia nggak bisa berbahasa Vietnam, menyebutkan namanya sendiri katanya salah, nggak sesuai dengan pengucapan aslinya, menurut orang-orang Vietnam lainnya. Jadi dia memang sekedar berbadan Vietnam, namun jiwanya benar-benar Prancis.<\/p>\n

\"Ryan<\/a>

Ryan Dina<\/p><\/div>\n

Kedua turis Vietnam asli memilih untuk berdiam di ruang makan yang teduh, tak pernah sekalipun naik ke atap. Sedangkan sisanya, kami menghabiskan sebagian besar waktu, di atap tanpa peneduh, langsung di bawah matahari terik, yang dengan sangat efisien membuatku dehidrasi dan hitam-merah terbakar \u2013 salah sendiri tadinya nggak pakai sunscreen. Kulitku memang menghitam kalau terbakar matahari, dan aku menyukainya. Nggak pakai proses memerah, mengelupas, dan perih. Tapi itu biasanya. Yang sekarang ini, matahari begitu super dan kami bersantai di atap begitu lamanya, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir ini, kulitku merah bersisik!<\/p>\n

Padahal tadi pagi sebelum berangkat, sempat ribut-ribut hampir bawa jaket yang makan tempat, gara-gara kata @Harry_Mdj dan @CulinaryManiac<\/a> bulan lalu tempat ini dingin.<\/p>\n

\"Pantai<\/a>

Pantai pasir putih (klik untuk download widescreen wallpaper size)<\/p><\/div>\n

Belum sempat berhenti di mana pun, perut sudah keroncongan. Air minum di botol 1.5 Liter juga sudah menjadi panas akibat sengatan matahari. Dehidrasi, tapi malas minum air panas. Akhirnya kami berdelapan menyerah kepada sang Dewa Matahari, dan turun ke ruang makan yang teduh. Ternyata, makan siang five-course-meal sudah hampir siap!<\/p>\n

\"Lunch:<\/a>

Lunch: 5 course meal<\/p><\/div>\n

Orak-arik telur (nama kerennya: scramble eggs), ikan (yang dengan sukses dibagi-bagi dengan sumpit, tanpa tersentuh tangan, tentunya oleh wanita Vietnam tulen tadi), sayur (kayaknya biasa, tapi enak, mungkin akibat kelaparan), spring roll (langsung habis), dan cumi-cumi (agak rebutan). Sekaleng bir (sayangnya hangat, apa enaknya) untuk masing-masing orang dibagikan pula di meja, oleh sang pria Vietnam tulen. Memang pasangan Vietnam ini satu-satunya yang bisa berkomunikasi 2 bahasa, Inggris dan Vietnam.<\/p>\n

\"Gelang\"<\/a>

Gelang<\/p><\/div>\n

Saat itu aku menyadari, di pergelangan tangan 2 orang cowok di sini, terikat belasan gelang benang, warna-warni! Aku melihat pergelangan tangan kiriku. Di sana ada 2 gelang benang serupa. Yang satu berwarna putih dari benang kasur, diberi oleh seorang biksu di Temple Doi Suthep di Chiang Mai, Thailand. Aku dan Ryan memang sempat mengikuti upacara pemberkatannya. Yang satunya lagi berwarna kuning dan oranye cerah, benang jahit. Yang memberi adalah seorang anak kecil penjaja suvenir di tepi sungai Nam Khan di Luang Prabang, Laos. Katanya, seorang biksu memberinya setumpuk. Maknanya, pemakainya akan menjadi lucky.<\/p>\n

Gile, belasan gelang beginian, si cowok yang tampaknya seperti party animal ini, menyempatkan diri ke banyak temple dan acara pemberkatan?<\/p>\n

Jawabannya mengejutkan.<\/p>\n

\u201cHahaha, no! I got these in Vang Vieng!\u201d<\/p>\n

Vang Vieng adalah satu tempat paling liar di Laos, kalau bukan di seluruh Asia Tenggara. Vang Vieng katanya beralam cantik luar biasa, namun para turis, terutama backpacker muda, mendatangi tempat itu untuk \u201ctubing\u201d di sungai, sekalian bar hopping. Bar-bar ini memang menghadap ke sungai. Minuman beralkohol dan obat-obat terlarang dalam bentuk normal hingga makanan adalah objek wisata kuliner setempat. Tersedia pula swinging rope, di mana mereka yang sadar dan mabuk bisa berlompat Tarzan ke sungai!<\/p>\n

\u201cUntuk tiap sloki shot yang kami gelegak, kami mendapatkan 1 gelang, haha.\u201d<\/p>\n

Tinggal dihitung saja, berapa shot yang dia minum!<\/p>\n

\"Burung\"<\/a>

Burung<\/p><\/div>\n

Bersambung ke: Halong Bay Photostory [2\/3]<\/span><\/a>
\n
Bersambung ke: Halong Bay Photostory [3\/3]<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"

Langit biru, tebing terjal mencuat dari laut, suasana mistis, it’s Halong Bay!<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1718,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[265,257],"tags":[79,355,262,263,266,4,378],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1733"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1733"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1733\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1718"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1733"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1733"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.duaransel.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1733"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}